Sedang Belajar Angka Romawi? Ini Daftar Penulisan Angka Romawi 1 – 1000, Lengkap dengan Sejarahnya

Angka romawi(Freepik)

SIAPA tak kenal angka romawi? Paling tidak angka ini mudah ditemukan pada bab buku, skripsi dan penelitian. Tak hanya di lingkup pendidikan, beberapa jam analog juga terkadang masih menggunakan angka romawi untuk mempertahankan desain jadul. 

Sistem bilangan yang melambangkan angka dengan huruf ini sangat unik untuk dibicarakan. Sudah lama ditinggalkan untuk urusan matematika, tak semua orang bisa membaca angka Romawi. Pun demikian, terdapat beberapa kesempatan angka romawi tetap digunakan. 

Jadi, mempelajari cara membaca dan menulis angka romawi juga tetap memiliki urgensi tersendiri.Tentunya, tujuan utamanya adalah agar tidak merasa bingung ketika menghadapi huruf-huruf ini.

Baca juga : Belajar Matematika Juga Bantu Kembangkan Soft Skill Anak

Sebenarnya sistem penomoran bangsa Romawi kuno ini terbilang sederhana, mengingat hanya ada 7 huruf untuk mewakili angka. Namun ternyata terdapat juga penggabungan huruf untuk penjumlahan dan pengurangan, membuatnya lebih rumit. 

Maka dari itu, berikut definisi setiap angka romawi, daftar angka romawi dari 1 – 1000, dan sejarah angkar romawi:

Definisi setiap angka Romawi

I = 1

Baca juga : Hasil PISA 2022, Matematika Indonesia masih Stagnan

V = 5

X = 10

L = 50

Baca juga : Perluas Akses dan Mutu Pendidikan, LSPR Gagas Berbagai Program

C = 100

D = 500

M = 1.000.

Baca juga : Curiookids Dampingi Anak Temukan Potensi dan Kembangkan Learning Behaviour

Daftar Angka Romawi 1-1000

1 = I

2 = II

Baca juga : STEM+ Wonderlab Sebuah Inovasi Dunia Pendidikan Science dan Teknologi

3 = III

4 = IV

5 = V

Baca juga : Program Pandai Berhitung Metode Gasing Diterapkan di Buleleng

6 = VI

7 = VII

8 = VIII

Baca juga : Perlu Direvisi, Target RPJPN 2025-2045 Pendidikan Tidak Realistis

9 = IX

10 = X

11 = XI

Baca juga : Bermain Sambil Belajar Bisa Bentuk Perilaku Bersih Anak

12 = XII

13 = XIII

14 = XIV

Baca juga : Dorong Kreativitas Anak Muda, Agatis Kenalkan Pensil Kuning

15 = XV

16 = XVI

17 = XVII

Baca juga : Lulusan FK Unsoed Jofiando Bagikan Tips Lulus UKMPPD dengan Nilai Tinggi

18 = XVIII

19 = XI

20 = XX

Baca juga : Orangtua Diingatkan Anak Persiapkan Diri Hadapi Ujian Sekolah

21 = XXI

22 = XXII

23 = XXIII

Baca juga : Indonesia Anut Model Pendidikan Agama untuk Membuat Siswa Taat dan Bertakwa pada Tuhan

24 = XXIV

25 = XXV

26 = XXVI

Baca juga : Stem4Youth Dukung Pendidikan STEM bagi Kaum Muda Kurang Mampu

27 = XXVII

28 = XXVII

29 = XXIX

Baca juga : Fakultas Vokasi UKI Bermitra dengan International Working Group Australia, Buka Kesempatan Magang di Australia

30 = XXX

31 = XXXI

32 = XXXII

Baca juga : Menumbuhkan dan Menubuhkan Budaya Belajar

33 = XXXIII

34 = XXXIV

35 = XXXV

Baca juga : Resmi Melantai di BEI, Bimbel Lavender Bertekad Naik Kelas dan Memajukan Pendidikan Indonesia

36 = XXXVI

37 = XXXVII

38 = XXXVIII

Baca juga : Memerdekakan Pembelajar(an)

39 = XXXIX

40 = XL

41 = XLI

Baca juga : Ada Delapan Macam Kecerdasan Manusia, Apa saja Itu?

42 = XLII

43 = XLIII

44 = XLIV

Baca juga : Ini Pentingnya Belajar Matematika bagi Kehidupan

45 = XLV

46 = XLVI

47 = XLVII

Baca juga : Cara Belajar Matematika Menyenangkan, Ilmu Penting bagi Kehidupan

48 = XLVIII

49 = XLIX

50 = L

Baca juga : Siswa Indonesia Moncer dalam Olimpiade Internasional Zhautykov, Kazakstan

51 = LI

52 = LII

53 = LIII

Baca juga : Kenali 4 Macam Teori Belajar yang Bisa Diterapkan

54 = LIV

55 = LV

56 = LVI

Baca juga : Ini Ciri Segi Banyak tidak Beraturan

57 = LVII

58 = LVIII

59 = LIX

Baca juga : Apa yang Dimaksud dengan Segi Banyak Beraturan?

60 = LX

61 = LXI

62 = LXII

Baca juga : Yuk Simak Apa Saja Satuan Berat

63 = LXIII

64 = LXIV

65 = LXV

Baca juga : Ayo Mengenal Satuan Panjang dan Cara Menghitungnya

66 = LXVI

67 = LXVII

68 = LXVIII

Baca juga : Pintar Matematika Dengan Konsep Soal Cerita

69 = LXIX

70 = LXX

71 = LXXI

Baca juga : Ini Rumus Luas Lingkaran, Cara Menghitung dan Contoh Soalnya 

72 = LXXII

73 = LXXIII

74 = LXXIV

Baca juga : Tata Kelola Guru Kunci Tingkatkan Mutu Pendidikan

75 = LXXV

76 = LXXVI

77 = LXXVII

Baca juga : Perpustakaan Digital Kini Hadir di Jatim dan Yogyakarta

78 = LXXVIII

79 = LXXIX

80 = LXXX

81 = LXXXI

82 = LXXXII

83 = LXXXIII

84 = LXXXIV

85 = LXXXV

86 = LXXXVI

87 = LXXXVII

88 = LXXXVIII

89 = LXXXIX

90 = XC

91 = XCI

92 = XCII

93 = XCIII

94 = XCIV

95 = XCV

96 = XCVI

97 = XCVII

98 = XCVIII

99 = XCIX

100 = C

150 = CL

200 = CC

250 = CCL

300 = CCC

350 = CCCL

400 = CD

450 = CDL

500 = D

550 = DL

600 = DC

650 = DCL

700 = DCC

750 = DCCL

800 = DCCC

850 = DCCCL

900 = CM

950 = CML

1000 = M

2000 = MM

Cara Menulis dan Membaca Angka Romawi

Penjumlahan

Penjumlahan dalam bilangan romawi dilakukan dengan meletakan angka besar terlebih dahulu, kemudian diikuti angka yang lebih kecil. Aturan penulisan bilangan romawi menggunakan sistem penjumlahan adalah sebagai berikut:

CXXXV melambangkan bilangan 135, yaitu: 100 + 10 + 10 + 10 + 5 = 85

CXXXXIII merupakan penulisan yang salah, Ketika X diulang empat kali secara berurutan (XXXXC), itu merupakan kesalahan penulisan, sebab seharusnya X diulang hanya dua kali sebelum C. 

Pengurangan

Pengurangan hanya dapat dilakukan sekali pada bilangan yang sama, seperti berikut: 

Untuk melakukan pengurangan, letakan angka romawi yang lebih kecil di depan dan yang lebih besar di belakang. Demikian pula, angka Romawi V, L, dan D tidak bisa digunakan dalam pengurangan. 

IX mewakili angka 9 dengan cara menghitung 10 (X) – 1 (I) = 9 (IX). Angka Romawi X hanya dapat digunakan untuk mengurangkan angka Romawi L dan C, seperti contoh: XL.

Angka Romawi I hanya bisa mengurangkan angka Romawi V dan X, seperti contoh: IV merepresentasikan angka 4 dengan menghitung 5 (V) – 1 (I) = 4 (IV).

IX mewakili angka 9 dengan cara menghitung 10 (X) – 1 (I) = 9 (IX). 

Angka Romawi X hanya dapat digunakan untuk mengurangkan angka Romawi L dan C, seperti contoh: 

XL mewakilkan angka 40 dengan penghitungan sebagai berikut, 50 (L) – 10 (X) = 40 (XL)

XC mewakilkan angka 90 dengan penghitungan sebagai berikut, 100 (C) – 10 (X) = 90 (XC) 

Angka Romawi C hanya dapat digunakan untuk mengurangkan angka Romawi D dan M.

Pola berulang

Pola berulang terjadi ketika beberapa huruf yang sama berturut-turut, menandakan penambahan nilai. Sebenarnya caranya hampir mirip dengan penjumlahan, contoh: 

III melambangkan bilangan 3, yaitu 1 + 1 + 1 = 3

XXX melambangkan bilangan 30, yaitu 10 + 10 + 10 = 30

CCC melambangkan bilangan 300, yaitu 100 + 100 + 100 = 300

MMM melambangkan bilangan 3.000, yaitu 1.000 + 1.000 + 1.000 = 3.000

Pembatasan berulang 

Huruf yang sama tidak boleh muncul lebih dari tiga kali berturut-turut. Jika lebih dari itu, gunakan notasi pengurangan. Contoh: IIII adalah penulisan yang salah, gunakan pengurangan, yakni IV (4); XXXX adalah penulisan yang salah, gunakan pengurangan, yakni XL (40). 

Meskipun angka Romawi telah ditinggalkan dalam penggunaan sehari-hari, huruf-huruf yang melambangkan angka ini masih sering muncul dalam konteks tertentu seperti pengukuran jam, penghargaan, atau simbolis dalam desain dan arsitektur. Bahkan di lingkungan pendidikan tinggi angka romawi masih berguna untuk menandai bab penelitian.  

Pun demikian, angka Romawi memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan angka besar dan tidak cocok untuk perhitungan matematika yang kompleks. Dalam penulisan, penting untuk memahami aturan dan kaidah penulisan angka Romawi agar menghindari kesalahan interpretasi.

Dengan memahaminya, membaca dan menulis angka romawi akan dapat dilakukan dengan mudah. Meskipun sistem ini telah mengalami perubahan sepanjang sejarah, penggunaannya masih dapat dihargai dan dipahami sebagai warisan budaya dan sejarah Romawi kuno.

Sejarah Romawi Kuno 

Angka romawi mulai dikembangkan pertama kali pada tahun 100 Masehi oleh bangsa Romawi kuno. Bangsa Romawi kuno di zaman itu menggunakan sistem penomoran yang berbeda dengan sekarang. 

Terdapat tujuh simbol huruf yang digunakan untuk merepresentasikan setiap angka, yaitu I, V, X, L, C, D, dan M.

Sistem bilangan ini sebenarnya diadaptasi dari bangsa Etruscan. Simbol dan bentuk penulisan angka romawi pun terlihat mirip dengan angka Etruscan yang juga menggunakan huruf. Pun demikian, angka Etruscan tak hanya menggunakan huruf, tetapi juga menyertakan gambar.  

Penggunaan gambar dan huruf untuk mewakilkan angka tentu saja sulit, baik ditulis, maupun dibaca. Maka kemudian, bangsa Romawi kuno akhirnya mempermudah penulisan bilangan hanya dengan huruf, dengan tujuan agar lebih sederhana. 

Sebagai ilustrasi, penulisan angka dalam bahasa Etruskan adalah seperti ini: I ^ X П 8 П. Dalam angka Romawi, representasinya akan menjadi: I V X L C M. Tentu saja adaptasi ini mengubah sistem penomoran dengan sangat pesat. 

Tetapi, sejak kemunculan angka modern, penggunaan angka Romawi terbatas pada penulisan situasi-situasi khusus.  Terdapat beberapa penyebab pembatasan ini, yaitu angka romawi tidak memiliki simbol yang mewakilkan angka 0 dan tidak cocok untuk penghitungan matematika yang kompleks. (Z-10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor :

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *