Perlu Kolaborasi untuk Tingkatkan Kualitas Penatalaksanaan Kanker di Indonesia

PERUSAHAAN farmasi Roche, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI), RS Dharmais, dan Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (Himponi) menyelenggarakan dialog multi-pihak di Jakarta, Rabu (6/12).

Dialog bertujuan membahas upaya untuk meningkatkan kualitas keperawatan onkologi di Indonesia dan secara khusus menyerukan pentingnya kolaborasi multi-pihak untuk mendukung pengembangan tenaga spesialis keperawatan onkologi.

Selain itu, dialog juga mendorong peran perawat sebagai mitra kerja strategis bagi dokter ahli onkologi dalam penatalaksanaan kanker.

Baca juga: Lions Club Jakarta Selatan Tulip Berbagi Berkat untuk Dua Rumah Singgah

Hal ini sangat penting mengingat kolaborasi Roche, FIK-UI, Dharmais dan Himponi  yangmulai membuahkan hasil ditandai dengan lulusan pertama program beasiswa tenaga spesialis perawat onkologi dari FIK-UI setelah menjalani program master dan spesialis selama tiga tahun.

Publikasi terbaru WHO yang bertajuk “Setting Priorities, Investing Wisely & Providing Care for All“ menyebutkan bahwa satu dari enam kematian di dunia diakibatkan oleh kanker.

Kasus kanker di 2018 mencapai 18.1 juta dan akan meningkat menjadi 29.4 juta di tahun 2040. Sementera itu angka kematian di negara berpenghasilan menengah ke bawah diperkirakan akan tetap tinggi, jauh dari target SDG.

Disisi lain, survei Himponi (2020) tentang tingkat pendidikan perawat di unit pelayanan onkologi menunjukkan bahwa 67% perawat onkologi masih berpendidikan diploma, 31% berpendidikan ners (sarjana) dan sebanyak 2% berpendidikan magister keperawatan.

Baca juga: Karena Rokok, Orang Indonesia Kena Kanker Paru 10 Tahun Lebih Dulu

Dari survei tersebut, Indonesia belum memiliki spesialis perawat onkologi. Tanggung jawab seorang spesialis perawat onkologi adalah memberikan pelayanan keperawatan pada pasien kanker dan keluarganya yang bermutu sesuai dengan tuntutan masyarakat.

Beberapa hal di atas menjadi dasar pentingnya keberadaan profesi Ners Spesialis Keperawatan Onkologi.

Dr. Dewi Gayatri, S.Kp., M.Kes., Ketua Prodi Ners Spesialis Keperawatan Onkologi mengatakan latar belakang dari kemitraan ini merupakan rasio perawat-pasien yang tidak memadai berkontribusi terhadap rendahnya kualitas pelayanan pasien, dan menyebabkan hasil akhir yang buruk.

Harapannya, kemitraan ini dapat meningkatkan kualitas standar perawatan dan mengantarkan kepada hasil perawatan kanker yang lebih baik,” jelas Dewi.

“Selain itu, ke depannya kami harap perawat onkologi profesional dapat diakui sebagai mitra strategis bagi onkologis dalam perawatan pasien,” terangnya.

Baca juga: Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Mahasiswa Keperawatan UI Berikan Edukasi Tentang KB

Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan, Dirjen Tenaga Kesehatan, Kemenkes, Hj. Oos Fatimah Rosyati, M.Kes menyambut baik perkembangan kemitraan.

“Percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia memerlukan keterlibatan semua pihak,” ucap Oos.

“Oleh sebab itu, kami sangat menghargai dan mendukung upaya yang dilakukan Roche, FIK-UI, Dharmais dan HIMPONI untuk penguatan tenaga perawat onkologi, apalagi,saat ini kanker merupakan salah satu prioritas Pemerintah,” ujarnya.

Menyambut perkembangan dari program ini, dr. Ait-Allah Mejri, Presiden Direktur Roche Indonesia berujar,“Kami senang kemitraan yang diinisiasi Roche bersama para mitra kerja mulai membuahkan hasil ditandai kelulusan pertama para penerima beasiswa tenaga spesialis keperawatan onkologi.”

Sementara itu Dekan FIK-UI, Agus Setiawan, S.Kp., M.N., D.N mengatakan,”Spesialis keperawatan onkologi merupakan jenjang profesi baru di Indonesia.”

“Oleh sebab itu, sangat penting dibangun ekosistem yang mendukung pengembangan para tenaga spesialis ini agar memberikan peluang untuk menerapkan keahlian mereka serta sangat penting adanya regulasi yang mendukung pengembangan profesi,” jelasnya.

dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, Direktur Utama Pusat Kanker Nasional Dharmais mengatakan, “Diperlukan sebuah standar untuk rumah sakit yang memiliki layanan kanker.”

“Tidak hanya perbaikan dari infrastruktur, tetapi juga melalui sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satunya adalah dengan menghadirkan Spesialis Keperawatan Onkologi. Harapannya Spesialis Keperawatan Onkologi dapat menjadi mitra strategis dalam layanan kanker,” paparnya.

Baca juga: Support System untuk Pasien Kanker Paru Jadi Kunci dalam Mempertahankan Kualitas Hidup

Kolaborasi pengembangan tenaga spesialis perawat onkologi juga mendapatkan sambutan positif, ditandai dengan akan dibukanya Program Studi Spesialis Keperawatan Onkologi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

dr. Ahmad Hamim Sadewa, P.hD, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM menjelaskan, “FKKMK UGM mendukung penuh rencana strategis Kemenkes untuk mempercepat pertumbuhan spesialis perawat onkologi di Indonesia.”

“Harapannya kami dapat menghasilkan banyak perawat berkualitas sehingga dapat mendukung tatalaksana kanker di Indonesia untuk menjadi lebih baik,” tuturnya

Dr. Kemala Rita Wahidi, SKp., Sp.Kep.Onk., ETN., MARS., FISQua, Kepala Bidang Pendidikan & Pelatihan Himponi menjelaskan, “Merupakan tanggung jawab organisasi profesi untuk meningkatkan kualitas perawat yang bekerja di layanan onkologi.”

Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD,KHOM, FINASIM, ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, menyambut dengan positif perkembangan dari program ini.

“Sebagai ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, saya menyambut dengan bangga kehadiran Spesialis Keperawatan Onkologi ini, agar tatalaksana kanker bisa menjadi lebih baik dan kerjasama antara dokter onkologi dan perawat dapat menjadisatu paket pelayanan yang komprehensif dan tidak terpisahkan,” ujar dr Cosphiadi. (RO/S-4)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *